Kutipan

BELAJAR TENTANG MIMPI ATAU HARAPAN: SEKILAS TENTANG HUTAN INDONESIA

Jumat, 6 Maret 2015

“Apa aku tengah belajar tentang mimpi-mimpi belaka?

Membayangkan tentang jajaran pohon rindang berbaris,

Tentang sejuk air embun di pelepahan,

Atau tentang menatap samudera awan dari ketinggian.

Atau bahkan aku tengah belajar tentang harapan-harapan?

Serpihan sisa alam yang tengah diperjuangkan.

Sisa-sisa lahan hutan yang coba untuk diselamatkan.

Atau barangkali aku tengah belajar untuk bertahan dan mempertahakan?

Belajar dari suatu hal yang disebut harta karun alam yang kaya raya…

Yang mungkin… kini hanya fatamorgana.”

Sudah 4 minggu aku masuk kuliah di semester 2 ini. Sudah 4 kali aku mengikuti mata kuliah Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (KSDAH) dan Pengantar Ilmu Kehutanan dan Etika Lingkungan (PIKEL) sebagai mata kuliah interdepartemen (pengenalan mata kuliah jurusan). Itu juga berarti sudah 4 kali aku berada dalam hari-hari penuh tanya dan kritisan. Aku mempertanyakan tentang apa yang tengah aku pelajari, apa yang tengah aku jalani, apa yang tengah aku hadapi, apa yang tengah aku hadiri, hingga apa yang tengah aku dambakan.

Kalau saja pikiranku bisa lebih tanggap dan keberanianku bisa lebih mantap, aku akan kritisi setiap kalimat-kalimat pesimisme dari dosenku. Mungkin iya pernyataan-pernyataan itu bertujuan agar kami sebagai mahasiswa kehutanan dapat tergugah untuk tidak apatis lagi dengan kondisi alam yang RUSAK saat ini. Namun aku sebagai seorang yang kurang suka (pada dasarnya memang terganggu) dengan pernyataan-pernyataan pesimis, menentang habis-habisan dalam diri ini tentang itu. Bahwasanya selalu ada HARAPAN, selalu ada MANFAAT yang bisa diambil. Bukannya tidak realistis, bukannya juga naïf dengan apa yang terjadi kini, namun aku selalu mencoba menanam dan mempertahankan sikap optimis. Bukankah lebih indah rasanya apabila yang menjadi orientasi kita adalah masa depan yang cerah? Bukankah menjadi lebih berenergi apabila yang mendasari adalah pemikiran-pemikiran positif dan berarah?

Memang pada kondisi tertentu keterbatasan (limit) justeru membuat buncah hasrat kita untuk menjadi lebih baik dengan segala inovasi yang pada akhirnya kita lahirkan dari hasil pemikiran sendiri ataupun secara kolaborasi. Itulah sisi positifnya. Lalu negatifnya seperti apa? Tidak lain adalah kemenyerahan tentang segala itu. Serba pasrah dengan kesemerautan itu. Ya, itulah yang aku anggap sebagai stereotip pesimisme. Pandangan serba paradoksal.

Coba renungkan sejenak. Kita itu bukan generasi yang dikeloni oleh MIMPI. Kita bukan generasi yang selalu menunggu DISUAPI. Kita bukan juga generasi NA’AS yang hanya menerima sisa-sisa hasil keserakahan yang terdahulu. Ya, HANYA SISA. Tapi kita itu generasi PEWUJUD HARAPAN di mana tiada ampun untuk menyerah. Generasi yang memilih BERSEMANGAT dan BERKONTRIBUSI. Untuk apa? Ya untuk kehidupan dan alam yang lebih baik.

Aamiin Allahumma Aamiin.

Galeri

THE FIRST (AGAIN): LANGKAH AWAL SI PEMULA

Mencoba untuk merealisasikan mimpi yang sudah ‘apek’ dari tahun ke tahun. Yups, pingin punya blog. Ini lah awal sesungguhnya…

Tulisan ini pernah saya post di mantan calon blog resmi yang saya idamkan itu. Namun apa adanya pengetahuan tak sampai untuk memecahkan problema ‘mengapa blognya gak bisa dibuka?’

Gak ada rintang yang cukup berat memang, tapi sekelebat malas dan ‘tunda’ menjadi alasan kenapa tak urung jua blog ini lahir. Di hari yang senggang pada liburan yang lengang ini, semumpung otak masih cukup kuat menahan sakit dan niat masih cukup tangguh untuk dilaksanakan, why not?

Terkadang, otak manusia yang pada dasarnya berfungsi juga sebagai kotak penyimpan tidak begitu tertata, sehingga kata-kata inspiratif yang muncul tiba-tiba terselip entah di mana.

Yeah, saya selaku penulis (amatir) dan pemilik warung kopi robusta (ini impian) tidak hanya berharap coretan-coretan saya bermanfaat untuk kebaikan, namun juga berusaha untuk benar-benar menjadikan catatan elektronik ini menjadi salah satu ladang amal kelak… (Aamiin)

Bercerita dan berbagi pengalaman. Bukan hanya kata-kata yang rumit dari galaunya duka, namun juga tawa yang renyah dari sederhanya kebahagiaan.

Tempat Baru yang Lama: Perpindahan

Disandingkan dengan gerakan pena di bagian hujung malam yang melangkah ke dini hari, Minggu 5 Juni 2016.

Aku selalu gugup, setiap kali berkunjung ke asrama.

Ada semacam rasa aneh yang sulit kubendung, apalagi kutafsirkan…

Itu berbicara antara ‘iya’ dan ‘tidak’ menjawab keputusan: apakah aku harus kembali ke asrama?

 

Namun kini terjawab sudah. Allah ternyata gariskan cerita hidup bahwa aku harus kembali.

Kembali…

 

Pada dasarnya yang kupinta dalam proses memperjuangkannya adalah semoga ini jalan terbaik aku bisa semakin dekat dengan-Nya, semakin bermanfaat dalam kebaikan, dan mampu menata waktu titipan-Nya.

Itulah bekal langkahku. Terlepas dari betapa rindunya aku dengan suasananya.

 

Aku berharap, tapi ternyata harus ditekan rendah setelah membumbung.

Katanya, “jangan terlalu berekspektasi tinggi terhadap lingkungan barumu…”

Diingatkan seperti itu, aku tercekat. Sebab nyatanya aku menaruh harap tunaikan rinduku di sana, di asrama.

Namun, waktu mengajarkan hati menjadi bijak. Perlahan, aku mulai sadar, adaptif itu perlu. Aku berada di sini kini bukan hanya untuk tunaikan rindu. Tak senaif itu!

Yang aku fahami lagi, aku tak selamanya idealis. Melihat keadaan, aku mencoba berpikir cara mencari jalan tengah agar aku tak berlalu terlalu ideal (tidak realistis).

Aku mempertahankan motivasi, agar tak pesimis. Meski terlalu banyak rute rencana yang belum sempat aku jelajahi.

Jika dikatakn, proses belajar terbaik adalah dengan terjun ke pengalaman, mungkin dapat dibenarkan. Karena kini, aku mulai merasakan bagaimana menjadi sesosok Senior Resident (SR).

Bagiku…

SR itu merapihkan hati, mimpi, serta menepati kata-kata. Bahkan ketika adik-adik meminta untuk ditemani merapihkan mimpi dan menata kehidupan baru mereka.

 

SR itu mau tak mau membagi hatinya menjadi banyak ruang, untuk diisi banyak bagian dalam kehidupannya di asrama. Mampu mengurai perasaan dan kasih sayangnya, bahkan ketika seorang saja meminta lebih untuk diperhatikan.

 

SR itu ibaratnya teko, ia harus mampu menampung cukup banyak kisah dan pembelajaran. Tak sampai di situ, ia juga harus tak lupa menuangkan itu untuk adik-adik agar bermanfaat. Menuangkan nikmatnya berbagi dan memahami. Seperti kataku, berharap sebagian kecil masa mudaku pernah bermanfaat.

 

Inilah yang kusebut kembali ke tempat baru yang lama. Ya, perpindahan.

*sekarang sudah di asrama, tapi aku masih jetlag*

Kunjungan

00.48 WIB

Aku malah terdampar di sini.

Masih di depan layar, masih disumbat alunan, masih dengan beberapa pemikiran yang… entahlah…

Beberapa waktu ini, aku vakum dari beragam kegiatan.

Tapi seiringnya, aku mulai melakoni seabrek kegiatan lainnya.

Terkadang, mata yang pas ba’da Isya siap terpejam, tapi harus terus berbinar. Yap, seperti sekarang ini, ditambah perut yang keroncongan.

Lihat! Mata panda kini matamu…

Aku berkaca setiap paginya, ya aku benarkan…

Untung saja pipiku tidak setembam panda yang seharusnya.

wah, kamu kurusan! Makan gak sih?

Makan kok, makan… makan hembusan angin dan riap-riap tantangan.

piiiiiippppp….

Sekilas, aku ingat laman ini. Agaknya aku hanya ingin menumpahkan sedikit dari se-samudera yang kurasa.

Jujur, hatiku bergejolak. Bolak-balik menatap tanggalan. Setiap waktunya.

Ah, sebentar lagi UTS…

Kemana saja Anggi berkelana selama ini?

Ujung-ujungnya tidur tak berbaring (lagi).

Aku Bertemu Engkau: Terkesan

Pada suatu episode kehidupan yang berbeda, aku bertemu banyak ‘engkau’ yang tak sama…

Engkau yang punya semangat yang tak padam

Engkau yang punya senyum yang tak pernah kuncup

Engkau yang punya tawa yang tidak melempem

Engkau yang punya visi yang syurgawi

Engkau yang menghanyutkan alam renungku dengan misterimu

Engkau yang mendekapku dengan eratnya persahabatan

Engkau yang tak pernah suntuk membuka telinga

Engkau yang mengalahkan tegarnya karang

Engkau yang menginspirasi lalui tancapan tombak kepedihan

Engkau yang membuai dengan makna, bukan kata saja

Engkau yang tidak pernah bosan bergerak

Engkau yang selalu tunjukkan tangguh tanpa keluh

Dan…

Masih banyak ‘engkau’ lainnya yang tak habis aku kenang dalam keterkesanan.

Sekilas Tentang Kenangan: Aku, Kamu, dan Kita

Sekilas Tentang Kenangan: Aku, Kamu, dan Kita

Even if I’m alone I’ll go on,

Even if it hurts…

I’ll never forget the dream I shared with all of you.

I’m glad to be with everyone.

Lombok, 22 Januari 2016

Memulai petualangan pagi ini dengan job baru: nganter adik ke sekolah. Setelahnya, melanjutkan perjalanan ‘memberi kejutan‘ ke sahabat zaman SMA. Ya, rasa-rasanya sudah menjadi kebiasaan pulang kampung tanpa kabar kemudian muncul tiba-tiba di pekarangan rumah orang, rumah kawan-kawan lama. Surprise!

Selanjutnya apa?

“Assalaamu’alaykum, Ge. Pagi ini, in syaa Allah aku dengan Izza mau ke SMANSA. Kalau mau, kita ketemu di sana yaa…” aku baca pesan singkat ini sambil senyam-senyum, seakan pagi ini rasa rindu dengan orang-orang itu bersambut dengan baik. Allah memberi jalan dan kesempatan untuk kami bertemu.

Tiba aku pada gerbang masuk SMA. Diri ini disambut senyum hangat satpam penjaga sekolah serta ibu-ibu staff Tata Usaha yang tengah duduk di teras depan lobi. ‘Keluarga lama’ yang hangat… Mereka mempersilakan seorang mantan siswi ini untuk masuk ke ‘rumah’, katanya sudah lama dinanti, sudah banyak teman-teman yang datang duluan. Masuk melalui lobi, disambut dengan jajaran foto-foto siswa-siswi berprestasi di tembok atas yang menghadap pintu masuk, hanya tersenyum menatap potret masa lampau.

Setelah bertemu beberapa orang guru, akhirnya aku tiba di mushalla, tempat sosialisasi salah satu universitas ternama di Indonesia. Aku mengambil posisi, duduk di belakang barisan siswa-siswi kelas 12 yang tengah menyimak kakak-kakak alumninya yang berkesempatan melanjutkan pendidikan di universitas tersebut.

Begitupun aku, juga menyimak, dan juga mengingat, tentang seorang yang (kebetulan) tengah mempresentasikan materi bagiannya di depan sana. Dia, seorang yang lama dinanti…

Tetiba, melintas aroma lawas kenangan. Isyarat semilir angin yang hembuskan rasa-rasa berjuta momen di masa yang lalu. Aku yang tegah duduk sendirian ini, mengingat, cukup lama kami tidak bertemu, kira-kira dalam hitungan satu setengah tahun lebih semenjak momen perpisahan. Kini, orang yang lama dinanti sudah di depan sana, terlihat sama meski tampak lebih dewasa.

“Aprily…Aprily…”

Aku menoleh ke sebelah kiri, ah paling itu adik kelas yang memanggil temannya dengan nama hampir sama dengan nama depanku.

“Aprily… Aprily… Ghe! Ghea!” aku menoleh kearah sebaliknya, “subhanallaaah, dipanggil-panggil dari tadi…” dia ngedumel. Iya, seorang yang lama ditunggu-tunggu.

“Haha, maaf-maaf…” aku datang menghampirinya. Memang, semenjak kuliah, aku menjadi tidak familiar dengan panggilan ‘Aprily’ bahkan ‘Ghea’. Karena di kampus, nama panggilan kuubah menjadi ‘Anggi’.

“Assalaamu’alaykum, Ukhti!” godanya dengan tawa yang menyebalkan seraya aku mencari-cari di mana sepasang sepatuku.

Awal pertemuan kami kali ini diwarnai dengan canda yang khas. Canda yang seringkali enjadi penghangat suasana, dan seringkali menjadi warna dalam percakapan kami. Canda yang pernah membuat kami sulit bernafas karena lelah terbahak.

Sempat bertemu dengan seorang yang mengirim pesan singkatnya tadi pagi. Bersalaman, memeluk melepas rasa rindu dengan seorang saudara yang juga tengah berjuang di bagian bumi lainnya, sebelum kemudian, kami, aku dan Neng, beranjak dari situ.

Tibalah langkah kami pada koridor kelas yang dulu pernah kami huni. Tiba-tiba dia bertanya, memulai nostalgia.

“Ghe, mau gak lomba lari lagi dari sini sampai sana? Terus beli nasi di Kopsis…” tanyanya sambil mengingat hal-hal sedikit konyol yang sering kami lakukan dulu bersama teman-teman yang lainnya.

“Haha, eh tapi ayo masuk kelas dulu!” godaku sambil pura-pura melangkah, membelok menuju pintu kelas yang persis ada di sebelah kanan kami. Dia tertawa…

Singkat cerita, kami berpisah sebentar dengan urusan masing-masing yang harus diselesaikan. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Ummi, panggilan akrab salah seorang guru biologi kami.

“Mau ketemu adik-adiknya yaa? Ayo!“ Bu guru menggandeng tanganku, menarik ke lokasi adik-adik yang tengah belajar.

Mereka, adik-adik itu, tengah duduk di bangku bundar taman, terlihat buyar fokusnya ketika kami mulai mendekat. Ya, mereka adik-adik pejuang biologi di tim olimpiade sekolah kami.

“Wah, saya lupa ini siapa aja…“ aku mengakuinya sambil agak grogi. Wajah-wajah mereka asing memang, tapi semangat yang terpancar dari mereka tidak asing aku rasakan, aura ‘master-master biologi‘ itu.

Kami pun berkenalan singkat. Ummi menitipkan mereka padaku untuk dibimbing sementara beliau melanjutkan kegiatannya. Menitipkan pada seorang yang tidak ada persiapan apa-apa.

“OK, sepertinya kalian sedang asik identifikasi daun ya? Wah, saya hanya tau sedikit,“ ungkapku untuk memulai tahap berbagi, seraya menghampiri salah satu meja yang di atasnya berserakan berbagai jenis daun.

Well, saya hanya tahu seputar tumbuhan hutan yaa, itu pun hanya sedikit, hmm contohnya itu, Mahoni!” pelajaran pagi itu aku mulai dengan mengenalkan kepada mereka beberapa tumbuhan hutan hingga beberapa yang ada di atas meja mereka. Mereka, dengan berbagai macam wajah polos, terlihat antusias ketika menebak setiap daun yang aku tunjukkan. Mereka, memiliki rasa ingin tahu dan pengetahuan yang lumayan seputar hal yang aku sampaikan.

Setiap ikut bergabung dengan adik-adik di Klub Biologi, aku selalu menemukan rasa yang sama, meski yang aku temui hampir setiapnya adalah orang-orang yang berbeda. Tapi, yang membuat rasa itu selalu sama adalah semangat dan kebersamaan yang ada.

Begitu asik aku menikmati proses berbagi itu, hingga terpecah konsentrasi ini oleh sapaan seorang yang tadi sempat bertemu. Untuk selanjutnya, celotehannya mengusik keseriusanku saat menjelaskan materi, celotehan spontan yang (menurutku) cukup lucu dan khas.

“Neng, jalan-jalan yuk?“ pintaku.

“Kemana emang? Gak mau ah, capek.“ Candanya.

“Ah elah, keliling sekolah aja kok.”

Petualangan nostalgia pun dimulai.

Berawal dari depan mantan ruang kelas sebelas IA 4 dulu, belakang mushalla, ruang musik…

Wait, pengin liat ruang musik.” Kataku, berhenti lalu menyibak gorden ruangan itu.

“Masih sama…“ bisikku, melihat sekilas satu set drum kenangan, keyboard yang agaknya baru, dan beberapa kotak atau wadah alat musik yang tergeletak agak berantakan.

“Kenapa? Tempatmu mengagumi seseorang ya? Haha…“ godanya, menyebalkan.

Spot selanjutnya adalah jajaran mantan ruang kelas dua belas IA 5, Aksel alias IA 6, dan… dua belas IA 4. Yup, dua belas IA 4, kelas kami dulu. Menatap kelas itu dan koridornya yang ditempati beberapa siswa-siswa yang tengah nongkrong bersenda-gurau, melayangkan ingatanku pada kebiasaan teman-teman kelasku dulu, ya duduk-duduk mengemper di sana. Ingatan yang lainnya pun muncul, ya tentang sedikit kisah agak runyam tentang aku dan teman jalanku ini.

Kami pun melangkah lurus ke kantin. Aku kira kantinnya serapih yang aku bayangkan, tapi yah di luar ekspektasi. Dia membeli sebungkus jajanan kecil, meski mengaku harus tidak banyak ngemil karena diet. Tapi dia bandel seperti biasanya.

“Yuk, kita makan di depan saja…“ Ajakku, melangkah ke depan koridor lab. Bahasa. Duduk di bangku panjang. Memulai kisah-kisah lama yang lucu, dia mengenang tentang seseorang. Kami tertawa-tawa.

“Entah mengapa, ingatanku terasa aneh sekarang. Seperti berbenturan. Rasanya aneh, tapi aku tidak lupa kenangannya. Mungkin hanya space-nya yang berganti.“ Begitu ungkapku, kami terdiam sejenak sampai dia bilang, “aku harus komentar apa?“ selalu dengan tanggapan seperti itu, batinku.

Sambil masih mengenang, kami melalui lab. favoritku, lab. biologi. Kami mengobrol di bawah pohon cemara di depan lab. hingga tiba pertanyaan-pertanyaan dari hal yang aku coba tepis sedari awal bertemu tadi,

“Kita udah berapa lama ya gak ketemu?“

“Hmm, dua tahun mungkin…“ aku mengira-ngira.

“Ah, masa sih?“ diam sejenak, “Rasanya aneh, pas ketemu lagi dengan kalian, tapi beda sih sama kamu, mungkin karena kita dekat yah?“

Aku tersenyum.

“Pas itu kita udah baikkan gak sih?“ pertanyaan yang sedikit membunuh. Aku akui itu mengungkit, tapi masih aku bisa kendalikan, aku tepis, aku tinggalkan jauh-jauh perasaan aneh tentang kerenggangan yang pernah kita alami.

“Pas kapan?“

“Pas itu lho, kita di pasar, eh di terminal…“ katanya coba mengingatkan.

Tiba-tiba Ummi datang selepas mengajar di lab. Biologi, menghampiri kami yang masih tanya-jawab. Ya, Ummi itu sebenarnya Ibu dari si Neng, teman ngobrolku ini.

Sambil melanjutkan perjalanan menuju pulang, aku mencoba membenarkan letak pemahaman, menjawab pertanyaan, “well, seingat aku kita baikkannya itu pas aku mau balik ke Bogor setelah libur lebaran 2014.“

“oh begitu…“ jawabnya…

Ya, karena bagiku, di situ letak titik perubahannya. Di situ momen cairnya suasana, saat itulah berbagi cerita menjadi biasa saja, tidak timpang karena ada yang menanti tanggapan maupun sebaliknya.

Hari itu, yang menjadi garis besar pertemuan kami adalah PERUBAHAN.

“Kalo menurutku, perubahan itu tentang keberanian, Neng…“ tanggapku saat di depan lab. bahasa tadi.

Walaupun dia pernah bilang “you change too much, Ghe…“ aku tersenyum.

Kita sepakat, memaknai persahabatan ini dengan ‘Selalu ada dalam segala’, tapi tidak untuk tahu segala. Iya kan?

But, the most important, aku sangat bersyukur bisa melihat ia tertawa lagi, mendengar celotehannya lagi, dan merasakan kami seperti semula, di dua tahun yang lalu…

20160122_103140

Backsound: Ichiban no Takaramono by Karuta (Ost. Angel Beats!).

Ibarat Anak Panah: Saatnya Melesat

Pernah main panahan?

Wah, atau jangan-jangan kamu anak panahan?

Perhatikan gimana anak panah yang ditarik,

Kemudian dilepas.

Pernah ngerasain hal seperti itu?

 

Semenjak move on ke semester tiga, aku merasakan semacam rasa jet lag dalam hari-hariku. Bagaimana tidak? Tahun pertama yang begitu membara, berputar bagai roda dengan berbagai macam kesibukan. Diakhiri dengan masa transisi ke semester berikutnya dengan suatu kepanitian besar, ya melelahkan namun menyenangkan.

Rindu rasanya bolak-balik kampus-kontrakan untuk pertemuan, atau rindu lari-larian di jalan karena khawatir dapet porsi push up karena terlambat ikut Rapat General.

Pun rindu masa-masa berlelah-lelahan menguntai banyak hal dengan kawan-kawan seperjuangan.

Berpeluh seperti itu memang nikmat…

 

Tetiba masa-masa itu beralih dengan perjalanan pagi ke kampus, dan pulang mendekati jam malam dari perpus.

Ya, once again, I said, that’s I’m a thinker. Sepanjang perjalanan aku memikirkan rasa senjangku.

Ada yang mengatakan, hindari waktu senggang, karena itu tidak produktif.

Sedang di sisi lain, aku pun masih kelabakan mengerjakan laporan, masih tak teratur dengan keseharian. Maka, kututup setiap malamku dengan meminta agar aku dapat memanajemen waktu dengan baik.

Dan, Allah Maha Hebat! Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa-apa yang kita inginkan. Dan itu selalu terjadi padaku…

Allah Maha Baik! Selalu ada kejutan sebagai jawaban do’a ku. Setiap aku pinta A, Allah memberikan trainning agar aku mampu mendapatkan A atas kehendak-Nya.

Ini serius lho.

Begitu yang terjadi sekarang.

Aku pinta agar dapat memanajemen waktu dengan baik.

Lalu pada awal tahun ini, Allah mengirimkan ujiannya melalui amanah-amanah yang datang satu dua tiga empat lima enam tujuh dan seterusnya.

Aku membatin, hey ada apa ini?

Tapi, aku teringat do’a ku, kini saatnya berusaha untuk itu.

Pun, tidak ada beban tanpa pundak.

Maka siapkan pundakmu, kawan, untuk memikul ini.

Fikiran dan jiwamu, kawan, untuk terus dibersihkan.

Niatmu, kawan, agar Allah yang menjadi motivasi terbesarmu.

Dan kakimu, kawan, yang siap melangkah dengan mantap, berlari bahkan melesat lebih cepat dan tepat.

Mari berproses, kita usahakan yang terbaik.

Kini saatnya tiba, anak panah dilepas, semoga melesat lebih cepat dan tepat.

Berkarya dan bermanfaat lebih baik, seraya terus berbenah.

Semangat Kaizen!

Sekilas tentang Perjalanan Tahun Ini: The End

Taukah kamu?

Hal kecil pun yang kau benci

Ada hikmah di dalamnya

Pun setiap yang kau jejaki

Setiap yang kau maknai

 

00.10 WIB, lagi-lagi melalui waktu ini di Bogor.

Kota yang (mungkin kelak) penuh makna.

 

Hari ini, berakhir rentetan ujian praktik yang menderu. Pikiranku kacau karena bentrok dengan laporan. Sungguh rasanya suntuk sekali.

 

Aku sadari, terlalu banyak benang kusut, penjabaran yang tak usai, bahkan kenangan yang tak sempat dirapihkan.

Maka aku sudahi sampai sini saja.

Karena selalu ada awal setelah akhir…

Pulang

Cepat sekali…

Rasanya baru kemarin aku tiba di Bogor setelah libur lebaran.

Baru kemarin rasanya bersibuk-ria dengan kegiatan MPKMB, BCR, KOMPAK, dan apalah itu agendanya. Intinya semester ini, aku puas dengan yang namanya O S P E K.

Baru kemarin rasanya kenal lebih dekat dengan teman-teman se-departemen, ketemu laporan yang tiada jemu, dipertemukan dengan Si A lah, lebih dekat dengan Si B lah, dipercaya menjadi apalah, menjalani apalah, begitulah…

Baru aja kemarin ngerasain rasanya kuliah jam 7 hampir setiap hari, praktikum setiap siang, kelar kuliah setiap sore, weekendnya diisi dengan mentoring, besoknya GCAT, eh udah balik ke Senin ketemu Meknika Kayu yang aarghh banget.

Baru kemarin ngerasain rasanya baru kemarin yang baru kemarin itu *apadah

Intinya minggu depan UAS tak sabar menyapa. Tapi akunya yang belum siap ketemu dia. Bayangin, aku harus ketemu saudara-saudaranya di minggu ini, yaa macamnya laporan akhir, seminar, ujian praktikum dan ujian kehidupan. Grogi lah , vroh!

Tapi, seiring semua berlalu, itu juga menandakan semakin dekat ‘rumah’ menantimu untuk pulang.

Semakin bersuara rindu di dalamnya, “ayo gadis kecil yang tengil, saatnya kamu pulang… Mama dan Ayah menantimu (dan nilai semester ini, ehm).”

Ya, selalu ada rumah yang menuggumu untuk pulang…

Menanti cerita petualanganmu, gelak-tawamu, air matamu, pelukan rindumu, atau hanya sekadar suara panggilanmu.

Siapakah rumah itu?

Bagiku belum tentu sama menurutmu 🙂